Dukungan Hashim Djojohadikusumo terhadap Hilirisasi, Batam Jadi Sentra Industri Solder Timah

Dukungan Hashim Djojohadikusumo terhadap Hilirisasi, Batam Jadi Sentra Industri Solder Timah
Pendirian perusahaan manufaktur di Indonesia terus menunjukkan tren positif, seiring dengan dorongan pemerintah untuk memperkuat hilirisasi sumber daya alam. Salah satu contoh nyatanya adalah pendirian PT Solder Tin Andalan Indonesia (STANIA) di Batam. Langkah ini tidak hanya memperkuat industri dalam negeri, tetapi juga menjadi bagian dari strategi nasional dalam menciptakan nilai tambah ekonomi melalui pengolahan mineral di dalam negeri.

Pabrik PT STANIA mulai dibangun pada Maret 2024, berlokasi di atas lahan seluas 6.500 meter persegi di Kawasan Industri Tunas Prima, Batam. Pada tahap awal, perusahaan ini menargetkan kapasitas produksi sebesar 2.000 ton solder timah per tahun. Dengan kapasitas tersebut, diproyeksikan omzet perusahaan dapat mencapai sekitar Rp1,2 triliun. Kehadiran pabrik ini diharapkan bisa menjadi pionir industri solder timah nasional yang sebelumnya bergantung pada impor bahan baku.

Langkah Legalitas
Untuk mendirikan perusahaan seperti PT STANIA, proses legalitas menjadi aspek fundamental. Tahapan yang dilalui antara lain:
Pemilihan badan hukum: Perseroan Terbatas (PT), sebagai bentuk usaha yang ideal untuk kegiatan industri skala besar.
Proses perizinan melalui OSS (Online Single Submission): Termasuk pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB), Izin Usaha Industri (IUI), dan dokumen pendukung lainnya.
Pengesahan dari Kementerian Hukum dan HAM: Sebagai bukti resmi pendirian badan hukum yang sah di mata hukum.
Legalitas ini menjadi fondasi penting dalam menjalin kemitraan industri, mendapatkan insentif pemerintah, serta meningkatkan kredibilitas di mata investor dan pasar global.

Menjadi Nilai Ekonomi Nasional
Dalam peresmian pabrik tersebut, Komisaris Utama PT STANIA, Hashim Djojohadikusumo, menyampaikan bahwa pembangunan pabrik solder timah ini merupakan langkah konkret dalam mendukung hilirisasi mineral. Ia juga menyinggung pentingnya sinergi antara proyek hilirisasi ini dengan pembangunan PLTA Kayan Hydro Energy berkapasitas 9 GW di Kalimantan Utara. Ketersediaan energi hijau dari PLTA Kayan dipandang sebagai penopang daya saing industri nasional, terutama dalam menghadapi pasar global yang kini mengutamakan prinsip keberlanjutan dan efisiensi energi.

Strategi Hilirisasi dan SDM Lokal
Pabrik ini juga menjadi perwujudan dari strategi hilirisasi yang tidak hanya fokus pada pengolahan bahan mentah, tetapi juga pada pengembangan sumber daya manusia. Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, menegaskan pentingnya pelibatan tenaga kerja lokal untuk mendukung pertumbuhan industri yang berkelanjutan. Komitmen ini mencerminkan kolaborasi antara pemerintah daerah dan pelaku usaha dalam membangun industri yang inklusif dan berbasis komunitas.
Lebih dari sekadar membangun fasilitas produksi, PT STANIA juga diharapkan menjadi pusat inovasi dan pelatihan bagi tenaga kerja lokal, sehingga mampu meningkatkan keterampilan teknis dan memperluas lapangan kerja di Batam dan sekitarnya.

Mendirikan PT di sektor strategis seperti industri timah memberikan peluang emas dalam mendukung agenda hilirisasi nasional. Namun, kesuksesan tidak hanya bergantung pada legalitas semata, melainkan juga kesiapan strategi bisnis, pemanfaatan energi terbarukan, dan pemberdayaan SDM lokal. PT STANIA menjadi contoh nyata bagaimana perusahaan dapat tumbuh sejalan dengan visi pembangunan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan dan bernilai tambah tinggi.